Beruntung Dunia Akhirat

informasi dunia akhirat

Hidup Itu Sebuah Kenikmatan | Hidup Sebuah Kenikmatan

Hidup Itu Sebuah Kenikmatan

 

Saudaraku…Manusia hidup di dunia ini, pasti dan pasti akan senantiasa mendapat ujian dan cobaan dari ALLOH subhanALLOHU wa TA’ALA. Sebagai pembeda, apakah kita termasuk orang-orang yang bersyukur dan ridho kepada ALLOH ataukah kita termasuk seorang hamba yang suka mengeluh dan putus asa. Memang perjalanan menuju akhir yang baik yaitu surga tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, di sana pasti akan banyak rintangan-rintangan terjal yang akan kita hadapi, agar ALLOH mengetahui mana hamba yang benar akan pengakuan keimanannya dan mana yang tidak. Ok…tertarik??? Silakan baca lebih lanjut dan Klik di sini

Jangan pernah berputus asa…karena ALLOH selalu menyertai kita…

Macam-macam Hadits Dho’if | hadits dho'if

Macam-macam Hadits Dho’if

Resensi oleh:agungkucing

 

 

Muqoddimah

Macam-macam Hadits Dho'if

Macam-macam Hadits Dho'if

Bila sesuatu perbuatan ibadah tidak didasarkan kepada apa yang dicontohkan oleh RosuluLLOH,maka tidak akan diterima oleh ALLOH dan bisa jadi berdosa pelakunya. Karena itulah kita harus merujuk kepada hadits Nabi Muhammad agar kita bisa mencontoh tata cara ibadah beliau.

Namun sangat-sangat disayangkan ternyata semangat kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah itu tidak dibarengi dengan keilmuan yang baik tentang sunnah itu sendiri. Hingga realitanya banyak di antara kaum muslimin yang terjatuh kepada hadits-hadits lemah dan palsu (hadits dho’if)

 

Jenis Hadits Dho’if 

Berikut ini al-Imam Ibnul Qoyyim akan memberikan definisi dan jenis hadits dho’if (palsu, lemah) yang sekarang ini marak beredar di sekitar kita.

1. Hadits Mursal
Hadits yang disebutkan oleh seorang tabi’in langsung dari RosuluLLOH tanpa (menyebutkan shohabat yang melihat peristiwa /mendengar langsung dari Rosul).
2. Hadits Mu’dhol
Hadits yang dalam sanadnya ada dua orang rowi atau lebih yang tidak dicantumkan secara berurut.

3. Hadits Munqothi’
Mencakup semua hadits yang sanadnya tidak bersambung tanpa melihat letak dan keadaan putusnya sanad.Sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa semua hadits mu’dhol adalah munqothi’ dan tidak sebaliknya.

4. Hadits Mudallas
Semua hadits yang diriwayatkan oleh seseorang dari rowi fulan sementara hadits tersebut tidak didengarnya dari rowi fulan namun ia tutupi aib ini (sehingga terkesan seolah dia mendengarnya dari rowi fulan). Hadits Mudallas ada dua macam: tadlis isnad dan tadlis syuyukh.

5. Hadits Mu’an’an
Hadits yang dalam sanadnya digunakan lafadz “fulan ‘an fulan” (fulan dari fulan).

6. Hadits Mudh-Thorib
Hadits yang diriwayatkan melalui banyak jalur dan sama-sama kuat, masing-masing dengan lafadz yang berlainan/bertentangan (serta tidak bisa diambil jalan tengah).

7. Hadits Syadz
Hadits yang menyelisihi riwayat orang-orang tsiqoh (terpercaya). Atau didefinisikan sebagai hadits yang hanya diriwayatkan melalui satu jalur (satu sumber rowi) sementara rowi tersebut kurang bisa dipercaya jika bersendirian dalam periwayatan hadits.

8. Hadits Munkar
Hadits yang hanya diriwayatkan oleh rowi yang lemah/dho’if menyelisihi periwayatan rowi-rowi tsiqoh.

9. Hadits Matruk
Hadits yang di dalam sanadnya ada rowi yang tertuduh berdusta.

10. Hadits Maudhu’
Hadits yang dipalsukan atas nama Nabi, di dalam rowinya ada rowi yang dikenal sering melakukan kedustaan atau pemalsuan.

11. Hadits Bathil
Hadits maudhu’ yang menyelisihi prinsip-prinsip syariah.

12. Hadits Mudroj
Perkataan yang diucapkan oleh selain Nabi yang ditulis beriringan dengan hadits Nabi. Perkataan ini biasanya berasal dari perowi hadits, baik shohabat atau perowi bawahnya, diucapkan untuk menafsiri kata tertentu (dan ini mayoritasnya) atau untuk melengkapi kalimat yang disabdakan Nabi. ( kutipan macam-macam hadits dho’if )

Kesimpulan dan Penutup Macam-macam Hadits Dho’if

Sebagai penutup, setelah kita mengetahui macam-macam jenis dan ciri hadits dho’if yang beredar di sekitar kita tersebut, maka semoga kita bisa terhindar dari mengamalkan dan menyampaikan hadits-hadits lemah dan palsu, dan menjaga amalan kita hanya di atas al-Qur’an dan as-Sunnah yang shohih dan selalu bertanya kepada orang yang berilmu dari kalangan para ulama ahlus sunnah wal jama’ah jika tidak mengetahui. Semoga artikel yang sangat sederhana dan terbatas ini bermanfaat bagi ana khususnya dan antum sekalian pada umumnya. Aamiin… (kutipan dari buku macam-macam hadits dho’if)

Macam-macam Hadits Dho’if Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/books/dictionary/2217935-macam-macam-hadits-dho/

(kutipan dari buku macam-macam hadits dho’if)

 

 

 

 

Seluk Beluk Mendidik Anak Perempuan

Seluk Beluk Mendidik Anak Perempuan

Al-Ustadzah Ummu Abdirrohman bintu Imron

 

Memiliki anak-anak perempuan bukanlah sebuah kekurangan bagi seseorang. Bisa jadi, ia justru menjadi anugerah yang sangat indah baginya, manakala dia bisa menunaikan segala kewajiban memelihara dan mendidik mereka.

 

 

Bagi orang tua yang dianugerahi anak-anak perempuan, pemberian ALLOH lini sebenarnya merupakan karunia yang amat besar dari-NYA. Dia bisa berharap janji RosuluLLOH n

 “Barang siapa yang memelihara dua anak perempuan hingga dewasa, dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan aku dan dia (seperti ini). “Beliau menggabungkan jari jemarinya.” (HR. Muslim no. 2631)

Juga pada janji beliau yang lainnya:

 “Barang siapa diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya, lalu mereka berbuat baik kepada mereka, kelak mereka akan menjadi penghalang dari api neraka.” (HR. Al-Bukhori no. 1418 dan Muslim no. 2629)

Kita juga mengingat penuturan ‘Aisyah d tentang seorang wanita miskin yang datang padanya. ‘Aisyah d mengisahkan:

 “Seorang wanita miskin datang kepadaku membawa dua orang anak perempuannya. Kuberikan kepadanya tiga butir kurma. Ia lalu memberikan kepada setiap anaknya sebutir kurma. Sebutir yang lain ia angkat ke mulutnya untuk dia makan. Namun, kedua anak perempuannya meminta kurma itu. Lantas dibaginya kurma yang hendak dia makan itu untuk kedua anaknya. Akupun merasa kagum terhadap perbuatannya, lalu kuceritakan apa yang dilakukannya kepada RosuluLLOH n. Beliau pun berkata, “Sesungguhnya ALLOH telah menetapkan baginya surga dengan kurma yang diberikannya itu dan membebaskannya dari neraka.” (HR. Muslim no. 2630)

Begitu pun kalau kita cermati, pendidikan terhadap anak perempuan memiliki peran yang amat strategis. Tentu saja, karena hal ini akan sangat berpengaruh terhadap kondisi masyarakat dan generasinya kelak. Bagaimana tidak! Seorang anak perempuan akan menjadi seorang istri bagi suaminya, akan menjadi ibu dan pendidik bagi anak-anaknya. Selain itu, dia akan mengemban berbagai tugas lain yang telah menanti.

Jika dia baik, dia akan menunaikan berbagai perannya ini dengan baik. Dia akan berkhidmah di balik kesibukan suaminya dengan sebaik-baiknya serta memberikan dorongan dan pengaruh yang baik bagi sang suami. Dia akan memelihara serta menjaga fisik dan psikis anak-anaknya yang kelak akan menjadi generasi pengganti, juga mengajari mereka dengan berbagai hal yang positif. Dia juga akan menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Selanjutnya, dia pun mengerti tanggung jawab dan amanat yang harus dia tunaikan dalam setiap tugas yang diembannya. Dengan demikian, baiklah masyarakatnya-insyaALLOH.

Sebaliknya, anak perempuan tak terdidik dengan baik tidak akan bisa membantu dan mendukung kebaikan suaminya. Anak-anaknya pun terlantar, tidak terurus karena dia tidak mengerti hak anak-anaknya. Tingkah laku anak-anaknya pun akan jauh dari sebutan beradab. Lebih-lebih lagi, dia akan menjadi sumber kerusakan yang bisa menghancurkan tatanan masyarakat.

Tentu kita tidak ingin memiliki anak perempuan sebagaimana gambaran terakhir ini. Kita mohon keselamatan kepada ALLOH l….

Kalau begitu, kita perlu menelisik seluk-beluk mendidik anak perempuan ini-dengan terus memohon pertolongan dan kemudahan dari ALLOH l – untuk mewujudkan impian dan harapan kita.

 

Mengajarkan Agama kepada Mereka

 Bekal yang paling berharga bagi anak-anak, termasuk anak perempuan adalah agama. Bahkan, seorang wanita dipilih karena agamanya, sebagaimana anjuran RosuluLLOH n:

“Wanita itu dinikahi karena empat hal: bisa jadi karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka dari itu, pilihlah wanita yang baik agamanya. Jika tidak, engkau akan celaka.” (HR. Al-Bukhori no. 5090 dan Muslim no. 3620)

Menanamkan agama kepada anak-anak tentu saja harus bertahap. Pada tahap awal, saat anak-anak mulai mengerti pembicaraan, kita bisa mengenalkan mereka pada ROBBnya.  Kita tuntun mereka menunjuk ke langit sambil kita katakan, “ALLOH.” (Nashihati lin Nisa’, hlm. 65)

Ketika tiba saat anak dapat berbicara, mereka dituntun untuk mengucapkan kalimat tauhid:

“Laa ilaaha illALLOOHU, MuhammadurrosuluLLOOHU”

Jadikanlah yang pertama kali mengetuk pendengarannya adalah ALLOH , pengesaan-NYA dan bahwa ALLOH ldi atas ‘Arsy-NYA, ALLOH l melihat dan mendengar segala ucapan mereka. Dia selalu bersama mereka di mana pun berada. (Tuhfatul Maudud, hlm. 195)

Saat berusia sekitar satu setengah tahun, ketika mereka mulai belajar bicara, kita tuntunkan mereka untuk mengucapkan basmalah sebelum makan dan minum. Kita biasakan sampai mereka terbiasa mengucapkannya sendiri setiap hendak makan dan minum. (Nashihati lin Nisa’, hlm. 65)

Ini sebagaimana halnya RosuluLLOH n mengajarkan basmalah kepada ‘Umar bin Abi Salamah yang berada dalam asuhan beliau:

“Nak, ucapkan bismiLLAH. Makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang dekat denganmu!” (HR. Al-Bukhori no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Ketika mereka mulai bisa memahami, kita ajari mereka rukun islam, rukun iman dan rukun ihsan. Pengajaran tentang hal ini tidak bisa dibatasi mulai usia tertentu, tergantung kemampuan pemahaman dan bicara anak.

Ajari serta biasakan mereka untuk berwudhu dan sholat saat berusia tujuh tahun. Pukullah mereka jika meninggalkan sholat pada usia sepuluh tahun. Pada usia ini pula, pisahkan tempat tidur antara anak laki-laki dan anak perempuan. Demikian yang diperintahkan oleh RosuluLLOH n kepada setiap orang tua dalam sabda beliau:

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk sholat ketika mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka jika enggan melakukannya pada usia sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Ahmad dan dikatakan oleh Asy Syaikh Al-Albani t dalam Shohih al-Jami’ ash-Shoghir no. 5744, “Hadits ini hasan.”)

Jika mereka telah mampu, kita latih mereka untuk berpuasa agar terbiasa kelak ketika dewasa. Hal seperti ini telah dilakukan oleh para ibu dari kalangan shohabiyah, sebagaimana yang dituturkan oleh ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz d:

“Kami menyuruh puasa anak-anak kami. Kami buatkan untuk mereka mainan dari perca. Jika mereka menangis karena lapar, kami berikan mainan itu kepadanya hingga tiba waktu berbuka.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim) (Nashihati lin Nisa’, hlm. 66-67)

Kemudian diajari pula mereka akidah yang benar, sebagaimana halnya RosuluLLOH n mengajari anak pamannya, ‘AbduLLOH bin ‘Abbas h:

“Jagalah ALLOH, niscaya ALLOH akan menjagamu. Jagalah ALLOH, niscaya engkau akan dapati Dia ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta, mintalah kepada ALLOH dan apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada ALLOH. Ketahuilah, seandainya seluruh ummat ini berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikannya selain apa yang telah ditetapkan oleh ALLOH bagimu. Seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan mudhorot kepadamu, Mereka tidak akan dapat menimpakannya selain apa yang telah ALLOH tetapkan menimpamu. Telah diangkat pena dan telah kering lembaran-lembaran.” (HR. At-Tirmidzi, dinyatakan shohih oleh al-Imam al-Albani dalam Shohih Sunan at-Tirmidzi 2/2043 dan al-Misykat no. 5302)

Kita ajarkan pula hal-hal yang terkandung dalam wasiat Luqman kepada anaknya yang dikisahkan oleh ALLOH l dalam al-Qur’an, surat Luqman ayat 13-19.

Selain itu, mereka harus pula mengetahui perkara-perkara yang harus dijauhi dalam syariat sehingga mereka dapat menghindarinya. Ini telah dicontohkan oleh RosuluLLOH n:

Al Hasan bin ‘Ali hmemungut sebutir kurma dari kurma sedekah, lalu dia masukkan kurma itu ke mulutnya. RosuluLLOH pun bersabda, Kikh, kikh[1]! Buang kurma itu! Apa kau tidak tahu, kita ini tidak boleh makan sedekah?” (HR. Muslim no. 1069)

Selanjutnya, seiring dengan bertambahnya usia, kita ajarkan mereka satu demi satu syariat yang mulia ini—terutama hal-hal yang khusus berkenaan dengan wanita—sebagai bekal utama bagi mereka dalam menghadapi kehidupan.

 

Memupuk Kesadaran Mereka Sebagai Seorang Wanita

Sedari awal, anak perempuan harus diberi pengertian bahwa mereka berbeda dengan anak laki-laki. Hal termudah untuk mengenalkan perbedaan ini adalah dari sisi pakaian. Mereka dilarang mengenakan pakaian yang biasa dipakai anak laki-laki. Selain pakaian, sikap dan perilaku pun demikian. Anak perempuan diajari sikap dan perilaku yang khas anak perempuan. Mereka harus diberi pengertian bahwa RosuluLLOH n melarang mereka menyerupai anak laki-laki, sebagaimana dalam hadits:

“RosuluLLOH n melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki. Beliau melaknat laki-laki yang berperilaku seperti wanita dan wanita yang berperilaku seperti laki-laki.” (HR. Al-Bukhori no. 5885)

Difatwakan oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin t, “Tasyabbuh (penyerupaan) laki-laki dengan perempuan termasuk dosa besar, demikian pula penyerupaan perempuan dengan laki-laki. Dalilnya, “RosuluLLOH n melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki”. Di samping itu, penyerupaan seperti ini akan merusak sunnah ALLOH l terhadap ciptaan-NYA, karena ALLOH l telah menciptakan kekhususan tersendiri bagi wanita dan kekhususan tersendiri pula bagi laki-laki. Jika wanita menyerupai laki-laki dan laki-laki menyerupai perempuan, tentu sunnah yang telah diciptakan oleh ALLOH l ini akan hilang dan sirna sehingga terjadilah sesuatu yang bertentangan dengan penciptaan dan hikmah ALLOH l.”(Fatawa ‘Ulama al-Balad al-Harom, hlm. 1761-1762)

 

Membiasakan Mereka dengan Adab dan Akhlak Mulia

Di masa sekarang, banyak anak perempuan kaum muslimin yang kehilangan pesonanya sebagai seorang muslimah. Makan dengan tangan kiri, bersuara di depan khalayak, keluyuran di pusat perbelanjaan dan berdesakan di tengah keramaian tidak lagi dipandang sebagai suatu aib. Bisa jadi pula, mereka bahkan terlepas dari perhatian orang tua. Rasa malu mulai tanggal dari diri mereka.

Di sisi yang lain, ada orang tua yang merasa perlu menyekolahkan anaknya di “sekolah etika” agar anak perempuannya tampil anggun dan penuh etika.

Sebenarnya, seorang muslimah bisa tampil santun dan penuh pesona manakala dia berpegang dengan adab dan akhlak yang diajarkan oleh Islam. Bercermin pada pribadi RosuluLLOH n, ummahatul mukminin dan para shohabiyah.

Di samping itu, sejak dini mereka harus dikenalkan dan dibiasakan dengan adab-adab yang diajarkan oleh Islam. Ini sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat yang mulia, ‘Ali bin Abi Tholib a

“Ajarilah mereka adab dan ajarilah mereka ilmu!”

Adab terhadap orang tua, tetangga, tamu, adab makan dan minum, adab berpakaian, adab meminta ijin dan sekian banyak adab yang diajarkan oleh Islam—hingga yang sekecil-kecilnya, seperti memotong kuku, membersihkan badan dan pakaian serta menunaikan hajat—perlu mereka ketahui dan amalkan. Adab dan akhlak yang mulia akan menjadi perhiasan bagi mereka.

Membiasakan Mereka Berpakaian Sesuai Syariat

Tidak selayaknya kita memakaikan mereka pakaian yang jauh dari tuntunan syariat, rok mini atau hot pants misalnya. Dinasihatkan oleh  Fadhilatusy Syaikh al-‘Utsaimin t, “Tidak pantas orang tua memakaikan anak perempuannya pakaian seperti ini (pakaian yang pendek, —pen.) semasa kanak-kanak. Karena jika terbiasa,hal ini akan melekat dan dianggap remeh olehnya. Apabila yang seperti ini menjadi kebiasannya, keadaan ini akan terus dibawa hingga dewasa. Yang saya nasihatkan kepada para saudari saya kaum muslimah, hendaknya mereka meninggalkan busana wanita asing dari kalangan musuh-musuh agama ini. Hendaknya pula mereka membiasakan anak-anak perempuan mereka untuk mengenakan pakaian yang menutup aurot dan senantiasa malu karena malu itu termasuk keimanan.” (Fatawa asy-Syaikh Muhammad ash-Sholih al-‘Utsaimin, 2/845-846)

Bahkan, kita harus mendorong mereka untuk menutup aurot sejak masih kanak-kanak agar mereka terbiasa ketika dewasa kelak. Sejak umur tujuh tahun, kita biasakan mereka mengenakan kain kerudung untuk menutup kepala. Ketika telah baligh, kita peintahkan untuk menutup wajahnya, mengenakan pakaian panjang dan lapang yang akan menjaga kehormatannya.

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan seluruh wanita kaum mukminin agar mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka. Ini lebih layak bagi mereka untuk dikenali (sebagai wanita baik-baik) hingga mereka tidak diganggu.” (al-Ahzab:59)

ALLOH l juga telah melarang para wanita mukminah membuka wajah serta menampakkan kecantikan dan perhiasan pada selain mahromnya. ALLOH l berfirman:

“Dan janganlah kalian menampakkan perhiasan sebagaimana kaum jahiliah dahulu.” (ah-Ahzab:33) (Kaifa Nurobbi Auladana, hlm. 26)

 

Mengajari Berbagai Keterampilan Rumah Tangga

Anak perempuan harus dibekali dan dibiasakan melakukan segala pekerjaan rumah.Hal ini nanti akan dibutuhkannya ketika mulai memasuki rumah tangga bersama suaminya. Banyak hal harus dia ketahui: cara bergaul dengan suami dan mengurus rumah tangga, seperti memasak, mengatur rumah dan sebagainya.

Kadang ada keluarga yang kurang memerhatikan sisi ini. Anak perempuannya tidak dibekali dengan keterampilan yang memadai untuk terjun dalam rumah tangga. Tatkala si anak mulai berumah tangga, ternyata dia tak bisa memasak atau membereskan rumah. Bahkan, ia tak mengerti bagaimana bergaul dengan baik dan santun dengan suaminya. Yang lebih menyedihkan jika sang suami adalah seorang yang tak sabaran dan cepat naik pitam. Akhirnya, muncullah berbagai problem rumah tangga sejak awal perjalanannya yang terkadang harus berakhir dengan perpisahan. Kita memohon keselamatan kepada ALLOH l.

Alangkah indah nasihat seorang ibu untuk putrinya yang hendak dinikahkan dengan al-Harits bin “Amr al-Kindi. Dia pesankan,

“Wahai putriku, sesungguhnya jikalau wasiat tak lagi diberikan untuk seorang yang beradab dan bernasab mulia, tentu takkan kuberikan wasiat ini untukmu. Namun, wasiat adalah pengingat bagi orang yang berakal dan pemberi peringatan bagi orang yang lalai.

Wahai putriku, seandainya seorang anak perempuan tak lagi membutuhkan suami karena ayah bundanya telah mencukupinya, sesungguhnya engkau adalah orang yang paling tak butuh terhadap suami. Namun, kita ini diciptakan untuk kaum laki-laki, sebagaimana pula diciptakan kaum laki-laki untuk kita.

Wahai putriku, engkau hendak berpisah dengan tanah tempat kelahiranmu, meninggalkan kehidupan yang dahulu engkau tumbuh di sana, menuju tempat yang tak kau kenal bersama teman yang asing bagimu. Dengan kepemilikannya atas dirimu, dia menjadi penguasa atasmu. Berlakulah layaknya hamba sahayanya, niscaya dia akan menjadi sahaya yang tunduk kepadamu. Jagalah sepuluh hal yang akan menjadi simpanan berharga bagimu:

  1. Bergaullah dengannya dengan penuh qona’ah karena qona’ah akan melapangkan hati.
  2. Dengar dan taatlah engkau dengan baik karena pada kedua hal ini ada keridhoan ROBBmu.
  3. Berupayalah menjaga pandangan mata dan penciumannya, jangan sampai kedua tangannya memandang sesuatu yang buruk darimu dan hidungnya mencium sesuatu darimu selain aroma yang semerbak wangi.
  4. Kenakanlah selalu celak dan air, karena celak adalah sebaik-baik perhiasan dan air adalah sebaik-baik wewangian.
  5. Jagalah selalu waktu makannya, karena panasnya rasa lapar akan mudah membangkitkan kemarahan.
  6. Ciptakan suasana tenang saat tidurnya karena tidur yang terganggu akan menimbulkan amarah.
  7. Beusahalah selalu menjaga rumah dan hartanya karena mampu menjaga harta temasuk sebaik-baik kemampuan.
  8. Jagalah selalu hubungan dengan keluarganya karena kemampuan menjaga hubungan dengan kerabat termasuk sebaik-baik pengaturan.
  9. Jangan engkau sebarkan rahasianya karena jika engkau lakukan, niscaya engkau takkan aman dari pengkhianatannya.
  10. Jangan pernah kau durhakai perintahnya, karena jika engkau mendurhakai perintahnya berarti engkau buat menggelegak dadanya.

Semakin kau agungkan dia, dia pun makin memuliakanmu. Semakin sering engkau seia-sekata dengannya, dia pun semakin baik kepadamu.

Ketahuilah, engkau takkan bisa melakukan semua ini sampai engkau utamakan keinginannya di atas keinginannmu dan engkau utamakan keridhoannya di atas keridhoanmu baik dalam hal-hal yang kau sukai maupun yang engkau benci.

Hati-hatilah, jangan sampai engkau bergembira di hadapannya manakala dia sedang gundah gulanah dan jangan bermuram durja di hadapannya tatkala dia sedang gembira.” (Takrimul Mar’ah fil Islam, hlm. 96-97)

 

WaLLOHU TA’ALA A’LAM biSHSHOWAB…

 

 

 

 

 

Asy Syariah

No. 75/VII/1432 H/2011

 


[1] Ini adalah perkataan untuk memperingatkan anak-anak dari sesuatu yang kotor. Maknanya, “Tinggalkan dan buang barang itu!”


SEO Powered By SEOPressor